vJanuari hingga awal Februari 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat waspada terhadap potensi longsor dan banjir bandang di hampir seluruh provinsi pulau ini. Curah hujan tinggi yang dipicu penguatan Monsun Asia dan aktivitas ITCZ menyebabkan debit sungai melonjak drastis, terutama di wilayah pegunungan dan lereng curam. Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, serta Gorontalo menjadi fokus utama status siaga, dengan beberapa daerah sudah mengalami genangan dan longsor kecil sejak Rabu malam. Situasi ini diperburuk oleh topografi berbukit dan kondisi tanah yang jenuh air, membuat risiko bencana hidrometeorologi semakin tinggi bagi warga di daerah rawan. BERITA TERKINI
Penyebab dan Wilayah Paling Rawan Longsor & Banjir Bandang di Sulawesi: Waspada Longsor & Banjir Bandang di Sulawesi
Intensitas hujan lebat hingga sangat lebat menjadi pemicu utama. Di Sulawesi Selatan, curah hujan mencapai lebih dari 120 mm dalam 24 jam di beberapa titik pegunungan seperti Toraja dan Enrekang, memicu longsor tanah di lereng-lereng jalan provinsi. Sungai-sungai besar seperti Saddang dan Walanae mengalami kenaikan debit signifikan, berpotensi memicu banjir bandang di hilir. Sulawesi Tengah, khususnya di wilayah Donggala, Parigi Moutong, dan Poso, juga rawan karena kombinasi hujan deras dan tanah labil pasca-gempa sebelumnya.
Sulawesi Tenggara mencatat potensi serupa di Kabupaten Kolaka Utara dan Konawe Utara, di mana lereng bukit mudah longsor saat tanah jenuh. Gorontalo dan Sulawesi Utara tidak luput, dengan peringatan khusus untuk daerah pegunungan Bolaang Mongondow dan Minahasa Tenggara. BMKG memprediksi hujan lebat berlanjut hingga 2 Februari, disertai petir dan angin kencang di beberapa area. Faktor penambah risiko termasuk deforestasi di lereng atas, pembangunan tidak teratur, serta penyumbatan aliran sungai oleh sampah dan material longsor sebelumnya. Secara keseluruhan, hampir seluruh Sulawesi berstatus waspada hingga siaga untuk longsor dan banjir bandang.
Upaya Penanganan dan Imbauan kepada Masyarakat untuk Waspada Longsor & Banjir Bandang di Sulawesi: Waspada Longsor & Banjir Bandang di Sulawesi
Pemerintah daerah bersama BNPB dan BPBD setempat sudah mengaktifkan posko siaga sejak Kamis pagi. Di Sulawesi Selatan, evakuasi dini dilakukan di beberapa desa rawan longsor di Toraja Utara, sementara pompa dan alat berat disiagakan di daerah aliran sungai besar. Sulawesi Tengah fokus membersihkan saluran sungai dan memantau titik rawan longsor di jalur trans-Sulawesi. Tim gabungan TNI-Polri dan relawan juga dikerahkan untuk membantu distribusi logistik ke daerah terisolasi jika akses terputus.
Masyarakat diimbau segera mengungsi jika tinggal di lereng curam atau bantaran sungai. Hindari bepergian saat hujan lebat, pantau info resmi melalui aplikasi Info BMKG atau radio lokal, dan siapkan tas darurat berisi dokumen penting, makanan, obat, serta senter. Jika mendengar suara gemuruh dari atas bukit, segera menjauh ke tempat lebih tinggi karena itu tanda longsor mendekat. Di daerah hilir, waspadai banjir bandang yang datang tiba-tiba meski hujan sudah reda di lokasi. Pemerintah daerah diminta memperkuat koordinasi antarinstansi agar respons cepat dan tepat sasaran.
Kesimpulan
Potensi longsor dan banjir bandang di Sulawesi tetap tinggi hingga awal Februari 2026 akibat hujan lebat yang terus mengguyur. Wilayah pegunungan di Sulawesi Selatan, Tengah, Tenggara, dan Gorontalo menjadi prioritas utama kewaspadaan karena topografi dan kondisi tanah yang rentan. Meski upaya mitigasi dan evakuasi dini sudah digalakkan, kunci utama ada pada kesadaran masyarakat untuk tidak mengabaikan peringatan. Pantau cuaca setiap saat, hindari risiko, dan ikuti arahan petugas agar dampak bencana bisa diminimalkan. Semoga hujan segera reda dan Sulawesi bisa melewati periode ini tanpa korban jiwa maupun kerugian besar. Tetap waspada dan saling bantu di tengah cuaca yang tak menentu ini.