Serangan Israel di Gaza Tewaskan Puluhan Warga

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Puluhan Warga

Serangan Israel di Gaza Tewaskan Puluhan Warga. Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza pada malam Kamis hingga dini hari Jumat (12–13 Februari 2026). Sebanyak 22 warga sipil tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat rentetan serangan yang menyasar kawasan pemukiman di Gaza City dan Deir al-Balah. Korban mayoritas adalah anak-anak dan perempuan, menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Gaza dan badan penyelamat sipil. Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata sementara yang rapuh, menambah korban sipil yang sudah mencapai ribuan sejak konflik dimulai. Israel mengklaim serangan menargetkan posisi militer Hamas, tapi bukti di lapangan menunjukkan dampak besar pada warga biasa. BERITA TERKINI

Detail Serangan: Serangan Israel di Gaza Tewaskan Puluhan Warga

Serangan dimulai sekitar pukul 22.30 waktu setempat dengan setidaknya enam serangan udara berturut-turut dalam waktu satu jam. Target pertama adalah sebuah rumah di lingkungan Al-Zeitoun, Gaza City, yang menewaskan 11 orang dari satu keluarga besar, termasuk empat anak. Serangan kedua menghantam rumah di Al-Sabra, menewaskan tujuh orang lagi, di antaranya tiga perempuan. Di Deir al-Balah, serangan menyasar sebuah gedung yang digunakan sebagai tempat penampungan sementara, menewaskan empat orang lainnya. Warga setempat melaporkan ledakan yang sangat kuat disertai getaran tanah yang terasa hingga radius 500 meter. Tim penyelamat masih bekerja hingga Jumat siang untuk mengeluarkan korban yang tertimbun reruntuhan.

 

Dampak dan Korban: Serangan Israel di Gaza Tewaskan Puluhan Warga

Dampak serangan terasa luas. Rumah sakit terdekat seperti RS Al-Aqsa di Deir al-Balah dan RS Nasser di Khan Younis kewalahan menangani korban. Dari 22 korban tewas, 14 di antaranya anak-anak dan perempuan. Lebih dari 40 orang terluka, sebagian besar dalam kondisi kritis karena luka pecahan dan trauma benturan. Banyak pasien harus dirawat di lorong dan halaman rumah sakit karena kekurangan tempat tidur dan alat medis. Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk: stok obat-obatan dan bahan bakar genset hampir habis, sementara lebih dari 1,8 juta penduduk masih mengungsi di berbagai tempat penampungan sementara.

Respons Berbagai Pihak

Pemerintah Palestina di Ramallah menyebut serangan ini sebagai “kejahatan perang baru” dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan sidang darurat. Qatar dan Mesir, selaku mediator, menyatakan keprihatinan mendalam dan memperingatkan bahwa serangan semacam ini dapat menggagalkan pembicaraan gencatan senjata yang sedang berlangsung. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali menyerukan “perlindungan warga sipil tanpa syarat” dan mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan. Di sisi lain, juru bicara militer Israel menyatakan bahwa operasi akan terus dilakukan selama Hamas tidak memenuhi tuntutan pembebasan sandera dan penghentian aktivitas militer.

Kesimpulan

Serangan malam di Gaza yang menewaskan 22 warga sipil menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan di wilayah tersebut. Di tengah upaya mediasi yang masih berlangsung, kejadian ini menunjukkan betapa sulitnya mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan ketika kepercayaan antarpihak sangat rendah. Bagi warga Gaza yang sudah kelelahan akibat konflik berkepanjangan, setiap malam yang seharusnya membawa istirahat justru sering berakhir dengan ketakutan dan duka baru. Dunia internasional kembali dihadapkan pada pilihan sulit: terus mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan atau membiarkan siklus kekerasan berlanjut. Yang pasti, selama korban sipil—terutama anak-anak—terus berjatuhan, tidak ada pihak yang benar-benar menang dalam konflik ini. Semoga jeda kemanusiaan yang ada dapat diperpanjang dan diperkuat, sehingga warga Gaza bisa mendapatkan napas sejenak dari penderitaan yang berkepanjangan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *