Rupiah Anjlok ke Rp16.520, Terlemah 3 Bulan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah tajam pada Jumat pagi (13 Februari 2026), menyentuh level Rp16.520 per dolar di pasar spot. Angka ini menjadi yang terlemah sejak pertengahan November 2025 atau dalam kurun tiga bulan terakhir. Tekanan yang terus berlanjut ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang emerging market dengan kinerja terburuk di Asia Tenggara pada awal tahun ini. Pelemahan kali ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari penguatan dolar AS pasca data inflasi AS yang masih panas hingga kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal tahun 2026. Meski Bank Indonesia kembali melakukan intervensi di pasar valas, upaya stabilisasi belum cukup menahan laju depresiasi yang sudah berlangsung sejak akhir Januari lalu. INFO CASINO
Faktor Penyebab Pelemahan: Rupiah Anjlok ke Rp16.520, Terlemah 3 Bulan
Penguatan indeks dolar AS (DXY) menjadi pemicu utama. Data inflasi produsen (PPI) AS bulan Januari yang lebih tinggi dari perkiraan membuat pasar kembali memperkirakan The Fed hanya akan memangkas suku bunga sebanyak 50 basis poin sepanjang 2026—lebih sedikit dari harapan sebelumnya. Akibatnya, yield US Treasury 10 tahun kembali naik ke kisaran 4,45%, menarik aliran modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, defisit transaksi berjalan yang melebar pada kuartal IV-2025 serta penurunan surplus neraca perdagangan non-migas menjadi beban tambahan. Investor asing juga terus melepas Surat Berharga Negara (SBN) dalam jumlah cukup besar sejak awal tahun, sehingga aliran modal keluar (capital outflow) mencapai sekitar USD 1,8 miliar dalam enam minggu terakhir. Kekhawatiran terhadap ruang fiskal tahun 2026—dengan target defisit APBN yang masih di kisaran 2,5–2,9% PDB—juga menambah sentimen negatif. Meski BI sudah menaikkan BI-Rate menjadi 6,25% pada Desember lalu dan terus melakukan intervensi valas, tekanan eksternal yang dominan membuat rupiah sulit bertahan di bawah Rp16.400.
Dampak dan Respons Pasar: Rupiah Anjlok ke Rp16.520, Terlemah 3 Bulan
Pelemahan rupiah langsung terasa di pasar domestik. Harga barang impor seperti kedelai, gandum, daging sapi, dan bahan baku industri naik cukup signifikan dalam dua minggu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tertekan, sempat turun lebih dari 2% pada pembukaan Jumat sebelum akhirnya ditutup melemah 1,4%. Sektor konsumsi, ritel, dan otomotif menjadi yang paling terdampak karena ketergantungan pada bahan baku impor.
Di sisi lain, eksportir komoditas seperti batu bara, nikel, dan minyak sawit justru mendapat angin segar karena pendapatan dalam dolar meningkat saat dikonversi ke rupiah. Namun secara keseluruhan, pelemahan rupiah di atas Rp16.500 dikhawatirkan dapat memicu inflasi impor yang lebih tinggi dan menekan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Bank Indonesia menyatakan akan terus melakukan triple intervention—intervensi valas, obligasi, dan operasi moneter—untuk menjaga stabilitas. Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3% PDB dan akan mempercepat realisasi belanja negara untuk mendukung pertumbuhan.
Kesimpulan
Rupiah yang anjlok ke Rp16.520 per dolar menandai fase terlemah dalam tiga bulan terakhir dan mencerminkan tantangan ganda yang dihadapi Indonesia: penguatan dolar global yang masih kuat serta tekanan domestik dari defisit transaksi berjalan dan aliran modal keluar. Meski Bank Indonesia dan pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas, tekanan eksternal yang dominan membuat pemulihan rupiah ke level Rp15.800–16.000 masih terlihat sulit dalam jangka pendek. Bagi masyarakat, kenaikan harga barang impor sudah mulai terasa, terutama bahan pangan dan energi. Ke depan, kunci stabilisasi rupiah ada pada dua hal: pengendalian inflasi AS yang lebih jelas serta keberhasilan menarik kembali aliran modal asing melalui kebijakan fiskal yang kredibel dan komunikasi moneter yang konsisten. Sampai kedua faktor itu membaik, rupiah kemungkinan masih akan bergerak di kisaran Rp16.400–16.600 dalam beberapa minggu ke depan. Waspada, tapi jangan panik—sejarah menunjukkan rupiah selalu punya ketangguhan untuk pulih setelah tekanan berat seperti ini.