PWI NTB Bawa Spirit Jurnalisme ke HPN 2026 Serang. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) hadir dengan semangat kuat di Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Serang, Banten, pada 7–9 Februari 2026. Delegasi PWI NTB membawa spirit jurnalisme yang khas: jujur, dekat dengan masyarakat, dan tetap teguh di tengah tantangan daerah kepulauan. Dengan jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah keikutsertaan PWI NTB di HPN, kontingen ini tidak hanya memeriahkan acara, tapi juga aktif menyuarakan isu-isu aktual seperti literasi media di daerah terpencil, keberlanjutan ekonomi media lokal, serta perlindungan wartawan di wilayah rawan bencana. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa pers daerah tetap punya suara penting dalam percaturan nasional, meski berasal dari provinsi yang jauh dari pusat. REVIEW FILM
Kontribusi PWI NTB di Rangk#aian Acara: PWI NTB Bawa Spirit Jurnalisme ke HPN 2026 Serang
PWI NTB tidak datang sekadar hadir. Mereka terlibat aktif dalam berbagai sesi seminar dan workshop. Di forum utama tentang “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat”, perwakilan PWI NTB menyampaikan pengalaman nyata bagaimana media lokal di NTB bertahan di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses internet yang tidak merata. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan siaran dan pemberitaan berbasis komunitas, terutama di pulau-pulau kecil seperti Sumbawa Barat, Dompu, dan pulau-pulau di sekitar Lombok.
Di sesi khusus uji kompetensi wartawan, anggota PWI NTB turut menjadi peserta dan penguji. Beberapa wartawan senior dari NTB bahkan diminta menjadi narasumber dalam diskusi tentang jurnalisme bencana, mengingat pengalaman mereka meliput gempa Lombok 2018, tsunami Palu, dan banjir bandang berulang di wilayah pegunungan. Mereka berbagi praktik terbaik: bagaimana tetap akurat di tengah keterbatasan sinyal, menjaga etika saat meliput korban, dan memastikan pemberitaan tidak memicu konflik sosial di masyarakat multikultural.
PWI NTB juga membuka stan kecil di pameran HPN yang menampilkan produk jurnalistik lokal: buku foto “Lombok Pasca Gempa”, majalah komunitas berbahasa Sasak-Bima, serta portofolio liputan investigasi tentang pengelolaan sampah di Mataram. Stan itu ramai dikunjungi delegasi dari daerah lain, menjadi tempat bertukar pengalaman dan membangun jaringan antarwartawan.
Spirit Jurnalisme yang Dibawa dari NTB: PWI NTB Bawa Spirit Jurnalisme ke HPN 2026 Serang
Spirit yang dibawa PWI NTB ke Serang bisa diringkas dalam tiga kata: ketangguhan, kedekatan, dan kebermanfaatan. Ketangguhan terlihat dari bagaimana media di NTB terus beroperasi meski sering menghadapi bencana alam, koneksi internet terbatas, dan tekanan ekonomi iklan yang menurun. Kedekatan tercermin dalam gaya jurnalisme yang lebih mengutamakan suara masyarakat akar rumput—dari nelayan di pesisir hingga petani di lereng Rinjani—daripada hanya mengikuti agenda nasional. Kebermanfaatan menjadi prinsip utama: pemberitaan harus memberi solusi atau setidaknya pencerahan, bukan sekadar sensasi.
Di berbagai diskusi informal, anggota PWI NTB sering menyinggung pentingnya “jurnalisme pulau”—cara meliput yang memperhitungkan jarak geografis, perbedaan budaya, dan keterbatasan transportasi. Mereka juga mengusulkan agar Dewan Pers lebih memperhatikan sertifikasi kompetensi wartawan di daerah terpencil, termasuk kemudahan akses uji kompetensi tanpa harus ke kota besar.
Kesimpulan
Keikutsertaan PWI NTB di HPN 2026 Serang bukan hanya soal jumlah peserta atau kehadiran simbolis, tapi bukti bahwa pers daerah tetap punya energi dan gagasan yang layak didengar di tingkat nasional. Mereka membawa spirit jurnalisme yang tangguh, dekat dengan masyarakat, dan berorientasi manfaat—nilai-nilai yang sangat dibutuhkan di tengah disrupsi digital dan tantangan keberlanjutan media. Di tengah hiruk-pikuk acara nasional, suara dari NTB terdengar jelas: pers harus tetap menjadi jembatan informasi, terutama bagi mereka yang berada di wilayah paling ujung. Semoga semangat ini tidak berhenti di Serang, tapi terus dibawa pulang dan diterapkan di setiap redaksi di NTB. Karena pada akhirnya, pers yang kuat di daerah adalah fondasi pers nasional yang kokoh.v