Trump Ancam Iran Soal Program Nuklir

Trump Ancam Iran Soal Program Nuklir

Trump Ancam Iran Soal Program Nuklir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran terkait program nuklirnya pada akhir Januari hingga awal Februari 2026. Dalam pernyataan di Gedung Putih dan melalui media sosial, Trump memperingatkan bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika Tehran tidak mencapai kesepakatan yang memuaskan AS. Ancaman ini datang di tengah peningkatan ketegangan setelah Iran menekan demonstrasi domestik dan terus mengembangkan kemampuan nuklirnya. Trump menuntut penghentian total pengayaan uranium, pembatasan program misil balistik, serta pemutusan dukungan terhadap milisi proxy di kawasan. Sementara itu, armada kapal perang AS telah dikerahkan ke Teluk Persia, menambah tekanan militer. Situasi ini memicu kekhawatiran konflik regional, meski upaya diplomasi melalui Turki mulai bergulir. REVIEW FILM

Latar Belakang Ancaman Trump: Trump Ancam Iran Soal Program Nuklir

Ancaman Trump terhadap Iran bukan hal baru, tapi kali ini lebih intens setelah ia kembali menjabat pada 2025. Pada 28 Januari 2026, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Iran harus menegosiasikan kesepakatan nuklir baru yang mencakup “tidak ada senjata nuklir sama sekali.” Ia menekankan bahwa AS tidak akan mentolerir pengayaan uranium di atas batas damai, dan menuntut verifikasi permanen oleh pengawas internasional. Trump juga mengaitkan ancaman ini dengan penindasan protes massal di Iran pada akhir 2025, yang menewaskan ribuan demonstran. Menurutnya, rezim Iran harus bertanggung jawab atas kekerasan internal sambil menghentikan ambisi nuklirnya.
Pengerahan militer menjadi bagian krusial dari strategi Trump. Armada kapal perang AS, termasuk kapal induk dan kapal perusak, telah berlayar menuju perairan dekat Selat Hormuz. Ini merupakan respons atas laporan intelijen AS yang menyebut Iran telah memperkaya uranium hingga level mendekati senjata nuklir, meski Tehran membantahnya. Trump menyatakan bahwa langkah ini untuk “menjaga perdamaian melalui kekuatan,” tapi juga sebagai sinyal bahwa opsi militer tetap terbuka jika negosiasi gagal. Ancaman ini datang setelah kegagalan kesepakatan nuklir sebelumnya pada 2018, yang dibatalkan Trump sendiri selama masa jabatan pertamanya.

Respons dari Pihak Iran: Trump Ancam Iran Soal Program Nuklir

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei langsung merespons ancaman Trump dengan peringatan bahwa serangan AS akan memicu “perang regional” yang meluas. Khamenei menyatakan bahwa Iran tidak akan mundur dari haknya untuk teknologi nuklir damai dan akan mempertahankan diri dengan segala cara. Ia menuduh AS dan sekutunya, termasuk Israel, berusaha melemahkan kedaulatan Iran melalui tekanan ekonomi dan militer. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang lebih moderat, menyerukan dialog tapi menolak tuntutan AS yang dianggap “tidak realistis,” seperti pembatasan misil dan pemutusan hubungan dengan milisi seperti Hizbullah dan Houthi.
Iran menunjukkan sedikit fleksibilitas dengan menyatakan kesiapan menangguhkan atau membatasi pengayaan uranium sebagai isyarat awal. Namun, pejabat Tehran menegaskan bahwa program misil adalah garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan, karena dianggap sebagai alat pertahanan utama. Respons ini disertai peningkatan kewaspadaan militer Iran, termasuk latihan rudal dan pengerahan pasukan di perbatasan. Khamenei juga memperingatkan bahwa konflik baru akan mengganggu pasokan minyak global melalui Selat Hormuz, yang bisa menaikkan harga energi dunia secara drastis.

Upaya Diplomatik dan Potensi Konflik

Di tengah ancaman saling balas, upaya diplomasi mulai terlihat. Pejabat AS, termasuk utusan khusus Steve Witkoff, dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Istanbul, Turki, pada 6 Februari 2026. Pertemuan ini difasilitasi Turki sebagai mediator netral, dengan fokus awal pada de-eskalasi dan prasyarat kesepakatan nuklir. Trump menyambut langkah ini sebagai peluang, tapi memperingatkan bahwa “waktu semakin menipis” untuk Iran mencapai deal yang memuaskan. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani juga terlibat dalam persiapan, menandakan keseriusan Tehran untuk menghindari konfrontasi langsung.
Potensi konflik tetap tinggi. Analis menyebut bahwa kegagalan negosiasi bisa memicu serangan terbatas AS terhadap fasilitas nuklir Iran, mirip dengan serangan Israel sebelumnya. Ini berisiko memicu respons dari milisi proxy Iran di Irak, Suriah, dan Yaman, yang bisa memperluas konflik ke seluruh Timur Tengah. Eropa, melalui Uni Eropa, mendesak kedua pihak menahan diri dan kembali ke kerangka kesepakatan nuklir 2015, meski Trump menolaknya sebagai “kesepakatan buruk.” Pasar global sudah bereaksi dengan naiknya harga minyak mentah hingga 5 persen sejak ancaman Trump dilontarkan.

Kesimpulan

Ancaman Trump terhadap program nuklir Iran menjadi titik panas baru di geopolitik global pada awal 2026, menggabungkan tekanan militer dengan dorongan diplomasi. Sementara AS menuntut kapitulasi total dari Tehran, Iran tetap teguh pada hak-haknya sambil menunjukkan kesiapan dialog terbatas. Pertemuan di Turki bisa menjadi jalan keluar, tapi kegagalan berisiko memicu konflik yang lebih luas, mengganggu stabilitas kawasan dan ekonomi dunia. Bagi kedua belah pihak, pilihan antara kesepakatan atau konfrontasi akan menentukan arah Timur Tengah dalam waktu dekat. Saat ini, dunia menunggu hasil negosiasi sambil berharap eskalasi bisa dihindari.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *