Trump Dukung Israel Lawan Yemen. Presiden Donald Trump kembali menyatakan dukungan tegasnya terhadap Israel dalam menghadapi ancaman dari Yaman pada 27 Januari 2026 malam melalui pernyataan di Truth Social dan konferensi pers singkat di Mar-a-Lago. Trump bilang AS siap memberikan bantuan militer tambahan, termasuk senjata presisi dan intelijen, untuk membantu Israel menangkal serangan roket Houthi dari Yaman. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik di Laut Merah, di mana kelompok Houthi yang didukung Iran terus menargetkan kapal dagang terkait Israel dan AS sebagai solidaritas dengan Palestina di Gaza. Dukungan Trump ini langsung memicu reaksi beragam dari dunia internasional, dari kecaman Iran hingga dukungan dari sekutu Barat. BERITA TERKINI
Kronologi dan Detail Dukungan: Trump Dukung Israel Lawan Yemen
Dukungan Trump ini bukan yang pertama sejak pelantikannya kembali. Pada 24 Januari, AS sudah mengirimkan tambahan rudal interceptor untuk sistem Iron Dome Israel setelah serangan Houthi menargetkan kapal dagang di Laut Merah. Trump menyatakan bahwa “Israel punya hak bela diri penuh lawan teroris Houthi yang didukung Iran”, dan AS siap ikut serta dalam operasi bersama untuk “membersihkan ancaman di Yaman”. Dalam konferensi pers, Trump sebut AS akan tingkatkan patroli kapal perang di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, serta berbagi intelijen real-time untuk menargetkan posisi roket Houthi. Ia juga bilang akan tekan Iran melalui sanksi baru jika dukungan ke Houthi tidak berhenti. Dukungan ini mencakup pengiriman tambahan rudal Patriot, drone MQ-9 Reaper, dan amunisi presisi untuk membantu Israel menangkal serangan balistik dari Yaman.
Respons dari Pihak Terkait: Trump Dukung Israel Lawan Yemen
Israel langsung menyambut positif. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bilang dukungan Trump ini “memperkuat aliansi kita melawan terorisme regional”. Di sisi lain, Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Nasser Kanaani kecam pernyataan Trump sebagai “provokasi berbahaya” dan ancaman terhadap stabilitas kawasan. Houthi di Yaman melalui pemimpinnya Abdul-Malik al-Houthi bilang akan “tingkatkan serangan lawan kapal AS dan Israel” sebagai respons. Uni Eropa melalui Ursula von der Leyen minta semua pihak menahan diri agar tidak memicu konflik lebih luas. Rusia dan China dukung sikap Iran, sebut dukungan Trump sebagai “agresi imperialis”. Di dalam AS, Partai Demokrat kritik Trump karena dianggap memprovokasi konflik tanpa strategi jangka panjang, sementara Republikan dukung sebagai langkah tegas lawan terorisme.
Dampak Geopolitik dan Ekonomi
Dukungan Trump ini memperkuat posisi AS di Timur Tengah pasca-pelantikan, tapi juga meningkatkan risiko kesalahan perhitungan yang bisa memicu konfrontasi langsung. Harga minyak Brent langsung melonjak 5% dalam 24 jam terakhir karena kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Bab el-Mandeb—rute yang mengalirkan sekitar 12% perdagangan minyak dunia. Saham perusahaan energi AS dan Eropa menguat, sementara indeks saham di Teluk Persia sedikit tertekan. Lalu lintas kapal tanker di Laut Merah mulai melambat karena premi asuransi melonjak tajam. Secara geopolitik, langkah ini memperkuat aliansi AS-Israel tapi juga memicu solidaritas lebih kuat dari Iran dan kelompok proksi seperti Houthi, Hezbollah, dan Hamas. Banyak analis memprediksi ketegangan akan terus berlanjut hingga AS dan Iran menemukan jalur diplomasi baru.
Kesimpulan
Pernyataan Trump mendukung Israel lawan Yaman pada 27 Januari 2026 menandai eskalasi baru yang signifikan di Laut Merah. Meski Washington menekankan sifat defensif langkah ini, Teheran melihatnya sebagai ancaman langsung yang harus dibalas. Dampaknya sudah terasa di pasar minyak dan lalu lintas kapal tanker, sementara dunia menahan napas menanti langkah selanjutnya dari kedua pihak. Ketegangan di Selat Bab el-Mandeb kembali mencapai titik kritis—satu insiden kecil saja bisa memicu konflik yang lebih luas. Semua mata tertuju pada dinamika di Laut Merah dan keputusan strategis di Washington serta Teheran. Semoga diplomasi masih punya ruang sebelum situasi lepas kendali. Stabilitas energi global sedang diuji, dan kawasan ini tetap jadi salah satu titik paling panas di peta dunia saat ini